Jember tidak seperti biasa, tepat pada hari Ahad tanggal 5 Januari 2020, ratusan peserta berbagai tokoh berkumpul di salah satu Cafe di Jember, berkumpul dalam rangka peduli, memikirkan dan mensolusi negeri. Jalannya acara tersebut dipandu oleh Ustadzah Dyah selaku host.
Pemateri pertama, memaparkan kritik atas pengelolaan negara sekuler (model Korporatokrasi). Menurut beliau sumber kerusakan, sumber kemaksiatan yang paling besar sehingga individu-individu rakyat malah berbangga-bangga melakukan kemaksiatan secara massal tidak lain bersumber kepada negara.
“Negara sekarang ini disebut korporatokrasi, hasil perselingkuhan dan hubungan gelap antara korporasi dengan birokrasi, perselingkuhan yang dilakukan oleh korporasi yang diwakili oleh para pengusaha dan birokrasi yang diwakili oleh pemerintah, yang diselingkuhi adalah negara demokrasi yang seharusnya dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat, namun saat ini berubah menjadi dari pengusaha, oleh pengusaha, untuk pengusaha” ungkap ustadzah Iffah, Jember, Ahad (5/1/2020)
Jadi pengelolaan negara itu bergeser dari negara yang seharusnya menjadi pelindung, penjamin, namun berselingkuh dengan pengusaha, sehingga pada faktanya negara dikelola dan diatur berdasarkan untung dan rugi, begitulah negara korporatokrasi saat ini.
Sedangkan kekuasaan Oligarki, apa itu kekuasaan oligarki? kekuasaan Oligarki yaitu menghasilkan kekuasaan yang hanya segelintir orang saja yang menikmati kekuasaan tersebut di suatu negara, namun kekuasaan itu hanya dipegang oleh sedikit orang saja, baik itu golongan, partai politik, pengusaha atau orang-orang kaya.
Akibat negara korporatokrasi ini dikelola ugal-ugalan secara bisnis yang menghasilkan kekuasaan oligarki maka yang menjadi korban adalah rakyat. Padahal tujuan bernegara negeri ini tertuang pada UUD 1945 yang berbunyi "kemudian daripada itu, untuk membentuk suatu pemerintahan yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial", namun saat ini tujuan tersebut telah bergeser.
Kenapa bisa dikatakan bergeser? karena negara disini sebagai pedagang, bukan sebagai pelayan yang diamanahkan oleh UUD 1945.
“Kebutuhan komunal seperti listrik, air, Bbm, rakyat harus membayar, kemudian negara juga menjual fasilitas pelayanan publik seperti tol, transportasi, dan lain-lain sehingga di sini berubah yang seharusnya negara sebagai pelayan dan pengatur urusan ummat, namun malah menjadi negara yang memperdagangkan apa yang bisa dijual ke rakyatnya, apalagi kekayaan alam menjadi milik kaum muslimin dan digunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat sebagaimana pasal 33 UUD 1945 ayat 3 berbunyi 'Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat', namun nyatanya dikuasai oleh negara untuk kepentingan pengusaha.” papar ustadzah Iffah.
Di akhir materi, ustadzah Iffah menyampaikan bahwa lingkaran setan sistem kapitalis sekuler yang tidak akan pernah berhenti, yaitu negara melepaskan diri dari tanggung jawabnya mengatur urusan rakyat yang diserahkan kepada swasta, misal seandainya Pertamina merugi akan diserahkan kepada swasta, PJKA merugi akan diserahkan kepada swasta, BUMN merugi akan diserahkan kepada swasta, sehingga rakyat yang menjadi korban, kemudian rakyat dieksploitasi untuk kepentingan pengusaha dan penguasa. inilah jahatnya sistem ekonomi kapitalis yang dikelola oleh negara korporatokrasi, yang menghasilkan kekuasaan oligarki, sehingga disini kesalahan terbesar umat Islam yang mendatangkan segala kerusakan ini adalah memilih dan menerapkan sistem selain Islam.
Pemateri kedua, ustadzah Yuniar diawal menyampaikan bahwa, kita sebagai umat Islam adalah umat yang tertinggi, umat hebat, umat yang memiliki potensi untuk mensejahterakan dunia, karena kita umat Islam sudah mengantongi solusi yang sempurna dan paripurna, solusi terbaik yaitu solusi Syariah Islam kaffah.
“Jika solusi terbaik adalah Islam, sepakat kah Indonesia itu bisa berkah dengan Syari'ah Kaffah?” tanya ustadzah Yuniar kepada ratusan peserta, “Sepakat..!” jawab peserta.
Sebagai seorang muslim kita memiliki solusi yaitu Islam kaffah, meskipun disisi lain Islam yang difitnah dan dituduh menjadi biang kerusakan negeri ini.
Jika kita lihat sejarah dulu, Islam sekitar 1300 tahun lamanya, sebuah peradaban terpanjang tidak melahirkan apapun kecuali kesejahteraan. Di dalam QS. Al-ar'af 96 pun disampaikan "Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi."
Ayat ini sudah menginformasikan bahwa, jika kita ingin keberkahan maka tidak ada yang lain kecuali beriman dan bertakwa yaitu berIslam Kaffah, namun justru yang kita lakukan saat ini adalah mendustakan ayat-ayat-Nya, sehingga bukan keberkahan yang kita dapat, namun kerusakan.
“Banyaknya kelaparan, stunting hingga 7,8 juta balita, perceraian meroket bahkan di Jember diberitakan bahwa 80% perempuan menuntut cerai pada suaminya, Apakah karena Islam?” tanya ustadzah Yuniar. “Bukan” jawab peserta, “karena apa? Karena kita mendustakan ayat-ayat Allah dengan belum menerapkan Syariah secara Kaffah sehingga membuat kehidupan kita menjadi sempit, menderita dan sekarang dianiaya oleh negara korporatokrasi.” jelas ustadzah Yuniar.
“Disisi lain saat ini kesadaran kaum muslimin sudah meningkat, ada yang namanya 212, komunitas artis Cinta Syariah, komunitas hijrah dan semuanya mengarah pada satu tujuan, ingin berislam secara Kaffah bahkan tidak hanya di Indonesia namun di dunia, bahkan CIA juga memprediksi bahwa 2020 Khilafah akan tegak.” jelas beliau.
"Harusnya kesadaran mayoritas kaum muslimin di negeri ini didorong oleh pemerintah, namun nyatanya tidak, malah yang dilakukan oleh pemerintah justru memalingkan kaum muslimin, bahwa seharusnya permasalahan negeri ini adalah kapitalisme, namun pemerintah memalingkan dengan mengatakan bahwa yang menjadi akar masalah negeri ini adalah radikalisme, bahkan BNPT mendapatkan kucuran dana APBN sebesar Rp505,5 miliar pada tahun 2018/2019 untuk menanggulangi radikalisme, Kenapa dana tersebut tidak digunakan saja untuk menangani stunting, jalan rusak, sekolah roboh dan lain-lain yang perlu dibenahi." lanjut beliau.
Ustadzah Alifah menjelaskan bahwa radikalisme ternyata menurut mereka (pembenci Islam) adalah kelompok yang ingin mengubah sistem dan menganggap pihak lain sebagai musuh, kelompok yang ingin menegakkan khilafah dan ingin menerapkan Syariah Islam dalam kenegaraan, itu yang dikatakan kelompok radikal. Siapa yang dituding? yaitu Islam.
Semuanya diarahkan kepada Islam dan umat Islam yang menginginkan Islam Kaffah. Seperti pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia tanpa alasan yang jelas, surat keterangan FPI yang masih menggantung, program-program yang marak di kampus, di sekolah yaitu program deradikalisasi, kemudian ustadz-ustadz ditangkepin, para ulama di persekusi, pengajian dibubarkan, Majelis Taklim pematerinya harus mempunyai sertifikasi dan harus mengikuti modul dari Kemenag.
Umat Islam umat yang tinggi, ternyata dituduh menjadi kelompok yang menjadikan sebab perpecahan bangsa, penyebab berbagai macam kegaduhan, penyebab berbagai macam problem di tengah-tengah masyarakat, luar biasa tuduhan menyakitkan bagi umat muslim.
Saat ini subsidi rakyat sudah dicabut, disisi lain rakyat harus mengurusi diri sendiri dan belum lagi dituduh, difitnah, dipersekusi, padahal kaum muslim adalah umat yang paling banyak penduduknya, jika di dalam demokrasi, seharusnya mayoritas kaum muslim yang paling banyak diperhatikan, tapi ternyata justru disengsarakan di negeri sendiri yang manajemennya mengikuti manajemen korporatokrasi.
“Rizal Ramli yakin radikalisme akan terus digoreng untuk menutupi masalah ekonomi. Isu radikalisme sebenarnya adalah propaganda sebuah kebohongan, propaganda radikalisme adalah pisau mata dua, disatu sisinya propaganda radikalisme itu bermaksud untuk mengokohkan sekularisme, liberalisme dan menutupi kebobrokan rezim dan kebijakan yang menyengsarakan rakyatnya. Di sisi lain, propaganda radikalisme adalah untuk menghalangi tegaknya Islam Kaffah, Khilafah dan membungkam para pejuangnya. Jika kita takut dengan isu radikalisme, kita tidak mengkaji Islam dan tidak berjuang menegakkan Islam, sejatinya kita berada di posisi pengokoh sekularisme, liberalisme dan menghalangi tegaknya Syariah Islam Kaffah, Jika kita termakan isu tersebut berarti kita sejatinya mengikuti skenario penguasa yang sudah menghianati kita dan kita ikut-ikutan mengokohkan sistem yang salah dan kemudian menghalangi tegaknya sistem yang benar dari-Nya.” papar beliau.
“Apa yang harus kita lakukan sebagai seorang muslim ketika mengetahui kebobrokan sistem saat ini? Pertama, kita harus tetap melakukan kritik terhadap penguasa dan yang kedua kita mengkaji Islam Kaffah dan menyampaikan ditengah-tengah ummat. Insya Allah kemenangan akan segera datang”, tambah beliau.
Islam Kaffah adalah sistem yang paling berpengaruh terhadap sistem-sistem yang dibawahnya yaitu sistem politik Islam, sistem ekonomi Islam, sistem politik sosial Islam, sistem pendidikan Islam, sistem sanksi hukum Islam, dan sistem politik luar negeri Islam. Sistem yang sangat berbeda jauh dengan sistem sekuler kapitalis.
Diakhir materi ustadzah Yuniar menyampaikan bahwa kemuliaan kaum muslimin dan negara hanya bisa kita dapatkan dengan Islam, dengan menerapkan syariah Islam secara Kaffah.
Diakhir acara, host menguatkan peserta dengan menyampaikan bahwa penerapan Islam secara Kaffah adalah kunci dari keberkahan dan kesejahteraan hidup yang akan kita jalankan, dan puncak penerapan Islam secara Kaffah adalah dengan tegaknya Khilafah ala Minhaj Nubuwah.[]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar