Sabtu, 19 November 2016

PROSTITUSI GAY ANAK BUKTI GAGALNYA NEGARA MELINDUNGI ANAK

Beberapa bulan yang lalu telah dikagetkan dengan temuan sejumlah anak-anak yang menjadi korban jaringan prostitusi gay dikawasan puncak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Kasus penjaja seks anak ini semakin menambah daftar panjang kasus kekerasan seksual anak yang terjadi di Indonesia.
Kasus ini terungkap oleh Tim Sub Direktorat Cyber Crime Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dit Tippid Eksus) Badan Reserse Kriminal Polri. Tim Bareskrim Polri menangkap pelaku AR (41) di sebuah hotel di Jalan Raya Puncak km 75, Cipayung Kabupaten Bogor Jawa Barat, Selasa, 30 Agustus 2016 (viva.co.id)
Usut punya usut, AR mengungkapkan telah melakoni praktek prostitusi ini setahun lalu. Ia menawarkan ‘anak asuhnya’ via facebook dengan membandrol mereka seharga Rp.1,2 juta kepada pelanggan. Namun, anak-anak dari keluarga tidak mampu ini hanya diberi Rp 100ribu hingga 150ribu, dan sudah 99 orang menjadi korbannya.
Ironis, dari data diatas menunjukkan LGBT sudah merebak dari sisi jumlah yang semakin banyak, dan pelaku/korban pada level usia yang semakin muda bahkan anak-anak.
Penyebaran LGBT di negeri ini tidak terlepas dari perkembangan globalisasi. Globalisasi ini yang telah berkonstribusi secara nyata dalam mengembangbiakkan budaya dan identitas homoseksual. Menjamurnya tempat-tempat hiburan dan jutaan video porno mempermudah para pelaku LGBT mengepakkan sayapnya.                                                                                                          
Perilaku LGBT di dalam Islam merupakan kejahatan yang besar dan dosa disisi Allah. LGBT jelas akan membawa bahaya besar bagi negeri ini dan penduduknya. Jika perilaku LGBT  semakin hari semakin menyebar bukan tidak mungkin bencana dapat menimpa negeri ini.
Butuh solusi sistemik mulai dari kesejahteraan ekonomi, perlindungan anak oleh negara, dll. Ini harus segera ditangani dengan cepat dan serius, karena kita ketahui bersama bahwa anak-anak yang jadi korban merupakan generasi penerus bangsa (nantinya akan menggantikan penguasa saat ini, dan maju tidaknya bangsa tergantung generasi) yang terancam serta akan mengalami keterpurukan dimasa depan.
Negara harusnya hadir untuk melakukan tindakan preventif, salah satunya dengan menghilangkan rangsangan seksual di publik termasuk pornografi dan pornoaksi. Namun, nyatanya negara saat ini tidak mungkin dapat menghilangkan rangsangan seksual tersebut,  karena adanya liberalisme (kebebasan) yang merupakan pilar dari sistem demokrasi negeri ini yang mustahil dapat melakukan tindakan tersebut.
Saat ini rakyat tidak lagi memiliki pelindung yang menjaga kehormatan, kekayaan, nyawa, dan kemuliaan mereka. Apa penyebabnya? Tidak lain karena pelindung yang selama berabad-abad pernah melindungi telah hilang, yaitu Imam atau khalifah. Rasulullah dengan tegas menyatakan bahwa “Sesungguhnya Imam (khalifah) itu laksana perisai (junnah); (HR. al-Bukhari dan Muslim). Imam sebagai perisai berarti sebagai pelindung dari musuh, pelaku kerusakan, termasuk pengaruh budaya globalisasi yang merusak generasi. Inilah perisai yang harus kita bangun kembali.
Imam yang dimaksud disini adalah imam/khalifah yang menerapkan syariat Islam secara total di dalam negara, karena Negara dan Islam adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Imam al-Ghazali menggambarkan hal itu dalam buku beliau Al-Iqtishad fi al-I’tiqad (Hal.76), “Agama dan kekuasaan itu ibarat dua saudara kembar. Agama itu pondasi, sedangkan kekuasaan itu adalah penjaga. Sesuatu yang tanpa pondasi akan roboh dan sesuatu yang tanpa penjaga akan hilang.” Karena itu  kewajiban mengangkat imam/khalifah (yakni menegakkan khilafah) termasuk perkara syar’i yang mendesak yang tidak bisa ditinggalkan.
Seluruh Syariat Islam hanya bisa terwujud jika di tengah-tengah umat terdapat Khilafah. Khilafah adalah negara yang menerapkan seluruh syariat islam secara total, negara yang menjadi raa’in (pengurus urusan umat) sekaligus junnah (perisai) bagi muslim maupun non muslim. Penerapan syariat Islam secara menyeluruh dalam Khilafah akan menjadikan umat merasakan bahwa Islam sebagai Rahmatan lil Alamin. []
Wallahualam bi showab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar